Langsung ke konten utama

Berbicara Waktu


Apa jadinya bila kedua pasang mata yang bertemu secara tak sengaja itu, menyimpan misteri, sebuah yang terpendam?

Tak pernah muncul di benak. Batin yang bergejolak dipaksa untuk tenang.

Hanya dengan tatapan. Lalu waktu menyerahkan dirinya. Untuk dipakai oleh kedua pasang mata itu. 

Menapaki waktu. Menyusuri waktu. Menelisik sedikit demi sedikit. Perlahan. 

Enggan nyatanya perlahan sirna. Seberkas cahaya mencoba membangunkannya. Desiran angin membisiki telinganya. 

Ia membiarkan jiwanya dirasuki. Dirasuki oleh sebuah rasa yang nyata tapi laksana maya. 

Bertanya pada waktu bagaimana maksudnya. Merayu waktu apakah ia bersedia.

Terkadang kaki siap bergerak melangkah, terkadang ia melemah.

Apakah sang waktu mampu mengelak? Bila semesta berkata iya atau bukan.  

Kau adalah sebuah penasaran yang disimpan oleh waktu.

 
-DAP- 18 Juli 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Marketing Class on Friday, 15th January 2016

Note for Marketing Class Dewi Annisa Puspita Magister Program of Management and Business School of Business Institut Pertanian Bogor (SB IPB) ( www.mb.ipb.ac.id ) ( www.ipb.ac.id )   Lecturer: Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc. ( www.ujansumarwan.blog.mb.ipb.ac.id , www.sumarwan.staff.ipb.ac.id ,  sumarwan@i p b.ac.id   ) First Marketing Lecture on 15th January 2016 The second course that we have to learn on class was Marketing Management after Organization and Human Resources. This course was lectured by Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc. Describing at a glance about him so far, he is an attractive and nice lecturer. He is so friendly to all of students, he always waves his hand to us in every moment we meet. He also tries to know us more by having a short conversation in our meeting. Back to the main topic. Marketing is such an interesting subject I guess. Because marketing is the spearhead of a company. Without marketing inside, t...

Perbincangan pertama - Cuplikan (Part 3)

Bagiku malam itu terasa berbeda. Seperti ada sebuah daya yang datang, melaju melesat menghantarkan aliran listrik ke ragaku. Di saat yang bersamaan pula, gelombang elektromagnetik memancar dengan kecepatan cahaya dan frekuensi yang tinggi. Membawa sebuah energi. Ada apa ini? Tidak seperti biasanya. Sudah hampir larut pun aku masih enggan menemui kasur. Kepalaku masih tertunduk ke arah layar ponsel, dengan lihainya jari-jariku menari  menyusuri tombol keyboard. Sepasang mata yang tak beranjak dari layar, meski pancaran radiasi sudah memberikan efek lelah pada otot disekelilingnya. Tak usah kau tanyakan lagi bagaimana ekspresi wajahku membaca kata demi kata yang muncul pada perbicangan panjang itu. Entah kenapa obrolan di awal terasa sangat lepas. Ia menanyakan berbagai macam hal yang membuatku ingin banyak bercerita. Sesaat aku mulai asyik mengetik tapi beberapa detik kemudian tertegun dan tersadar. Baru saja kenal dan belum benar-benar mengenalnya. Makhluk asing dari dimensi mana i...

Sepasang Mata

Sepasang mata yang pernah menghujam itu. Membuat logika melayang. Ia pergi dari tempat semestinya. Apa yang sebenar-benarnya terjadi.  Yang membuat logika itu terhempas begitu saja. Yang ditanam kuat, kini tercabut sesuka hati. Tak bisa menyelaraskan logika. Ia dikalahkan oleh sebuah rasa yang tak kupahami. Berdegup kencang. Aliran darah berdesir, melewati pembuluh darah begitu cepat.  Sangat tidak masuk akal. DAP – Agustus 2017