Langsung ke konten utama

Sepasang Mata


Sepasang mata yang pernah menghujam itu. Membuat logika melayang.

Ia pergi dari tempat semestinya. Apa yang sebenar-benarnya terjadi. 

Yang membuat logika itu terhempas begitu saja. Yang ditanam kuat, kini tercabut sesuka hati.

Tak bisa menyelaraskan logika. Ia dikalahkan oleh sebuah rasa yang tak kupahami.

Berdegup kencang. Aliran darah berdesir, melewati pembuluh darah begitu cepat. 

Sangat tidak masuk akal.

DAP – Agustus 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Marketing Class on Friday, 15th January 2016

Note for Marketing Class Dewi Annisa Puspita Magister Program of Management and Business School of Business Institut Pertanian Bogor (SB IPB) ( www.mb.ipb.ac.id ) ( www.ipb.ac.id )   Lecturer: Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc. ( www.ujansumarwan.blog.mb.ipb.ac.id , www.sumarwan.staff.ipb.ac.id ,  sumarwan@i p b.ac.id   ) First Marketing Lecture on 15th January 2016 The second course that we have to learn on class was Marketing Management after Organization and Human Resources. This course was lectured by Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc. Describing at a glance about him so far, he is an attractive and nice lecturer. He is so friendly to all of students, he always waves his hand to us in every moment we meet. He also tries to know us more by having a short conversation in our meeting. Back to the main topic. Marketing is such an interesting subject I guess. Because marketing is the spearhead of a company. Without marketing inside, t...

Sejumput Teka-teki

Di satu waktu, kala itu, sudut itu, ada dua pasang mata bertemu.  Terdiam beberapa detik. Sebentar dan asing. Tapi sepintas tatapan itu menghujam. Sedikit tertegun tapi tak dihiraukan. Ada cara yang Tuhan berikan agar dua pasang mata tempo lalu terlibat dalam satu bingkai.  Entah bagaimana. Cara itu seakan merangkai kepingan ceritanya sendiri. Membentuk sebuah teka-teki. Untuk pertama kalinya menyapa. Begitu unik. Dua pasang mata yang bertemu akhirnya berbicara.  Namun, menguap. Untaian kata demi kata, ia menguap begitu saja. Semacam terdapat cairan dari sebuah botol yang tumpah. Menyentuh teka-teki itu. Mengeluarkan asap dan hilang. Ternyata waktu meminjamkan detik dan menit nya hanya untuk sementara. Hanya untuk sekian waktu. Di beberapa hari beberapa jam beribu menit dan detik.  Namun, lagi-lagi, Tuhan selalu punya cara. Kedua pasang mata yang masing-masing berada di peraduannya. Menemukan celah dalam sebuah ruang. Teka-teki itu ...